Mengikhlaskan kepergian orang yang kita cintai demi kebaikan
Subuh tadi saya mendapat pesan singkat dari seorang teman baik. Dia mengabarkan tentang sahabatnya yang menderita kanker yang dinihari tadi telah tiada.
Beberapa bulan lalu teman baik saya itu pernah bercerita tentang sahabatnya yang sudah ia anggap seperti kakak sendiri. Sahabatnya itu divonis menderita kanker pada beberapa tahun lalu dan sejak saat itu hidupnya berubah drastis. Penderitaannya ditambah dengan: Istri yang baru ia nikahi beberapa bulan sudah meninggalkan dia, kesehatan dan daya tahan tubuh yang terus berkurang setiap harinya yang akhirnya membuat dia harus menggunakan kursi roda, tubuh yang tergantung dengan obat-obatan dan keluarga yang semakin hari justru terlihat sudah jenuh dengan kondisi anaknya yang tidak kunjung membaik.
Kondisi yang dialami oleh sahabat teman baik saya memang sangat memprihatinkan dan pagi ini Allah Swt. telah menyudahi semua derita yang sudah ia tanggung selama ini.
Hidup-mati adalah sepenuhnya milik Allah Swt. dan ketika saya atau mungkin kita memiliki seseorang yang disayangi seperti halnya cerita di atas, tentu secara arif kita akan mengikhlaskan kepergiannya karena kita tahu derita orang yang kita sayangi akan berakhir dan pilihan itu lebih arif dibanding ketika kita harus melihat orang yang kita sayangi menderita tiada akhir akibat sakit yang dideritanya.
Kisah serupa juga pernah dialami oleh salah seorang teman saya. Kali ini ia mengikhlaskan kepergian papahnya yang menderita penyakit liver dan diabetes.
Kejadiannya sekitar lima tahun lalu, ketika itu teman saya sedang menyusun tugas akhir. Karena sedang menyusun tugas akhir maka ia pun tidak mesti harus tinggal di kost-an di daerah Bogor terus menerus.
Papahnya adalah penderita penyakit Liver dan diabetes, bahkan sudah bertahun-tahun tergantung sekali dengan suntikan insulin. Kemana-mana papahnya tidak lupa membawa suntikan insulin dan karena itu dia sudah sangat terbiasa untuk menyuntikkannya sendiri.
Aktivitas keseharian papahnya cukup tinggi, hal itu berbanding terbalik dengan kondisi yang mengharuskan penderita penyakit Liver dan diabetes untuk tidak terlalu aktif dalam kesehariannya. Dan oleh karena aktivitasnya yang terkadang berlebihan itulah yang membuat papahnya terbilang sering 'bolak-balik' masuk rumah sakit untuk sekedar beristirahat.
Begitu juga dengan kejadian ketika papahnya meninggal. Hari itu papahnya masuk rumah sakit seperti biasa karena merasa lelah dan membutuhkan istirahat penuh. Teman saya dan Mamahnya itu tidak menaruh curiga sama sekali, bahkan ketika papahnya dirawat, adik teman saya yang sedang berlibur di Bali tidak terkesan terburu-buru saat ia diberitahu bahwa papahnya sedang dirawat.
Saat itu papahnya dirawat seperti biasa, sempat masuk ruang ICU dan sadar bahkan banyak ngobrol dengan teman saya dan mamahnya.
Seperti sudah diatur, papah teman saya yang masih dirawat sengaja menunggu kedatangan anak bungsunya yang sedang pergi berlibur sebelum ia meninggalkan wasiat dan nasehat kepada istri dan kedua anaknya.
Dan tidak lama selepas papah teman saya memberikan nasehat, tubuhnya terlihat sedikit mengejang dan bibirnya seperti sedikit meringis menahan sakit dan saat itulah mungkin ketika malaikat maut mencabut nyawanya. Seketika juga denyut jantung papah teman saya berhenti yang menandakan bahwa dia sudah tiada.
Melihat kondisi papahnya yang baru saja tiada, teman saya menitikkan air mata tapi ia bercerita saat itu tidak ada kesedihan yang mendalam yang ia rasakan karena saat itu ia berpikir derita yang selama ini dialami oleh papahnya sudah berakhir dan papahnya pun sudah membekali anak-anaknya dengan nasehat yang cukup bagi mereka dalam mengarungi hidupnya. Ada senyum bahagia yang terukir dari wajah papahnya seketika setelah ia meninggal dan satu lagi adalah saat meninggal papahnya adalah pada hari Jum'at, yang merupakan hari yang baik dan utama dalam Islam.
Cerita di atas memberikan kita pelajaran bahwa mengikhlaskan kepergian mereka yang kita sayangi demi kebaikan dan demi mengakhiri penderitaan yang dialaminya adalah wujud kasih sayang kita kepada mereka. Kita rela untuk hidup bersama menikmati derita mereka selama di dunia ini tapi kita akan ikhlas jika derita yang dialami mereka bisa berakhir walaupun berarti itu harus berpisah dengan kita di dunia ini. Dan itu semua adalah demi kebaikan bersama, demi kebaikan orang yang sudah tiada dan juga demi untuk kebaikan orang yang ditinggalkan.
Sesungguhnya Allah Swt. Maha Mengetahui mana yang terbaik untuk kita dan Maha Berkehendak atas segala sesuatu.


0 komentar:
Poskan Komentar