Komisi Gratis

The Hacker

TheHack3r.com

Kamis, 17 Juni 2010

Belajar Mencintai Orang Lain Dengan Tulus

BELAJAR MENCINTAI DENGAN TULUS Pengucapan kata-kata penuh mesra, adalah bagian dari ekspresi cinta kasih seseorang kepada kekasih hatinya, terutama pada saat perasaan cinta sedang menggebu-gebu bersemi di hati.


Sebagai bentuk ekspresi dan apresiasi cinta, terkadang pernyataan itu disampaikan dalam dua bentuk kalimat dengan esensi yang hampir sama, seperti dua bentuk pernyataan dibawah ini :
Kalimat pertama mengatakan : “Aku mencintai kamu karena aku membutuhkanmu…”

Sedangkan bentuk kalimat yang kedua mengungkapkan : “Aku membutuhkanmu karena aku cinta padamu…” Sepertinya ada kemiripan dalam mengungkapkan kedua kalimat tersebut. Akan tetapi, apabila diperhatikan secara cermat, kedua kalimat tersebut mempunyai perbedaan mendasar, terutama pada sisi pengertian atau makna yang terkandung di dalamnya.

Perbedaan terletak pada apakah ada nilai ketulusan dari orang yang mengucapkannya. Dalam menjalani hubungan berpacaran dengan orang yang kita cintai, memang sudah selayaknya kita melakukannya dengan penuh ketulusan. Tidaklah baik kiranya apabila dalam menjalani masa berpacaran, salah satu pihak selalu memperhitungkan atau mempertimbangkan atau menimbang-nimbang segala sesuatunya.

Ketika ada indikasi sikap tersebut tetap dipertahankan, maka sikap tersebut pada suatu waktu nanti akan dapat menjadi kerikil tajam sumber perpecahan atau pertengkaran, yang akhirnya bisa menjadi penyebab putusnya hubungan cinta kasih dengan pacar. Ketulusan itu tidak menuntut…

Ketulusan itu, tidak mengharapkan adanya sikap balas budi… karena dalam perbuatan tulus, ada pengorbanan… Oleh karena perbuatan sebuah tindakan yang didasarkan pada ketulusan hati, seseorang akan dapat memberikan kebahagiaan kepada orang lain karena perbuatan yang dilandasi ketulusan tersebut, telah membuka pintu harapan (bahkan mungkin pula pintu kehidupan) kepada orang lain yang menerima perbuatan tulus tersebut.

Terkait dengan sebuah hubungan cinta kasih, Pada saat kita telah menerima atau telah menyatakan pernyataan cinta kepada seseorang yang kita kasihi, itu sama artinya kita telah siap untuk membagi hati serta sebagian waktu kita dalam mengisi hari-hari kita bersama pacar.

Adanya penerimaan diri untuk membuka hati dalam menerima atau menyatakan rasa cinta kepada seseorang, seharusnya diikuti pula oleh adanya keterbukaan pola pikiran kita, karena sikap open minded kita, kelak akan sangat mempengaruhi serta menentukan pada cara pandang atau pada cara kita memandang kepribadian maupun kehidupan pacar dari kita.

Kenapa begitu? Karena salah satu hakekat mengasihi orang lain dengan penuh ketulusan itu, adalah mencerna terlebih dahulu baru berpendapat atau bertindak.

Berbuatlah karena hati kita yakin bahwa perbuatan kita itu adalah sebuah perbuatan benar. Janganlah kita membangun opini pribadi yang ingin menghadirkan suatu pola pandangan sebagai sebuah pembenaran.

Ini merupakan suatu keadaan atau pemikiran ideal apabila kita memang benar-benar tulus mencintai serta menyayangi pacar kita.

Cara menentukan sikap yang didasarkan pada cara memandang kepribadian serta kehidupan pacar kita, akan turut menentukan atau mempengaruhi penilaian kita terhadap pacar kita, yang kelak dapat berujung pada hadirnya sikap tulus untuk mau menerima keberadaan dan kondisi pacar, atau bahkan pada saat kita akan mengapresiasikan rasa sayang kita pada pacar kita.

Hal itu perlu kita lakukan agar kita tidak melihat kekurangan yang ada pada pacar kita sebagai sesuatu yang bisa merusak hubungan cinta kasih dengan pacar, namun menghadirkan sikap diri untuk mau membantu memperbaiki atau menutupi kekurangannya itu.

Sikap ini merupakan tanda penerimaan kita, untuk mau mengenal serta perduli atas apa yang ada dalam diri kekasih hati kita, sehingga apabila pada suatu waktu kita menerima informasi yang kurang menyenangkan tentang pacar kita, itu tidak akan membuat kita langsung terpengaruh atau terbakar emosi.

Sisi kekurangan dalam diri seseorang, adalah sisi rentan yang dapat dijadikan alasan bagi seseorang untuk berubah sikap setia (melakukan perselingkuhan) atau memutuskan hubungan pacaran dengan kekasih hatinya.

Apabila dalam menjalin hubungan kasih dengan kekasih hatinya tidak ada kesungguhan hati dari dalam diri seseorang untuk tulus mencintai serta dengan sepenuh hati menyayangi kekasih hatinya itu, maka besar kemungkinan, orang tersebut sulit untuk dapat menjaga kesetiaannya kepada sang pacar.

Dalam menjalin hubungan dengan orang lain, kita tidak boleh bersikap egois. Kita tidak boleh banyak menuntut, memaksakan diri kita dan menganggap diri kita adalah yang terbaik atau sebagai pribadi yang tidak memiliki kesalahan.

Kita seharusnya sadar, bahwa kita juga bukanlah individu yang sempurna. Jadi, ketika ingin membuat sebuah keputusan untuk memutuskan hubungan tali kasih dengan pacar, selama kesalahan atau kekurangan dalam diri pacar memang benar-benar tidak dapat diperbaiki, maka sebaiknya kita tidak menyederhanakan sebuah masalah dengan memvonis hubungan kasih dengan kekasih hati kita itu dengan kata putus…

Kelanjutan kisah percintaan pada sepasangan anak manusia yang sedang berpacaran, dapat menghadapi suatu kendala pada saat salah satu dari pasangan tersebut masih mempertahankan sikap ego diri, terutama ketika sikap ego tersebut ditunjukkan secara berlebih-lebihan.

Egoisme sikap, pada dasarnya dapat menghalangi tumbuhnya sikap tulus di dalam diri seseorang karena sikap egois membuat seseorang cenderung hanya memperhatikan atau mementingkan kepentingan diri sendirinya, dan seakan-akan lupa untuk berbuat baik kepada orang lain.

Adanya egoisme, dapat membuat seseorang menjadi selalu memperhitungkan setiap perbuatan yang dilakukannya kepada orang lain. Hal tersebut justru membuat kita sulit untuk berbuat tulus pada orang lain.

Untuk apa kita mempertahankan sikap egoisme kita, kalau sikap egois tersebut justru membuat kita menghadapi dilema dalam membina hubungan harmonis dengan pacar karena pacar kita telah kecewa terhadap sikap kita itu? Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka.

Untuk apa kita lebih mementingkan diri (tidak memiliki respon baik pada lingkungan sekitar) kita sendiri, kalau sikap egois tersebut justru membuat pacar menjadi tidak senang sama kita? Hubungan dengan pacar dapat merenggang, bahkan bisa membuat putus hubungan pacaran.

Apabila kita memang sudah memutuskan untuk bersedia berbagi kasih dengan orang lain, maka kita juga harus bisa menyatakan sikap tulus kita pada pasangan kita (dalam arti positif, tentunya). Cinta memang indah seperti yang pernah kita dengar, seperti yang kita lihat, seperti yang tertuliskan, dan seperti yang dibicarakan setiap orang.

Oleh karena itu, cinta yang tumbuh dan bersemi dalam hati, patut untuk diperjuangkan, dengan mempertaruhkan segala yang ada, termasuk dengan menempatkan ketulusan hati nurani pada saat menjalankannya.

Dengan bersikap tulus, berarti kita telah memberi makna indah akan adanya sikap menghargai orang lain, serta menghargai hubungan yang telah kita bangun dengan kekasih hati kita. Ketulusan sikap, bukan hanya membuat orang lain senang, namun juga bisa membahagiakan diri sendiri.Oleh karena itu, lakukanlah segala sesuatu yang bisa mendorong kita untuk dapat mencintai orang lain dengan tulus.

Bersikap tulus memang seharusnya dijadikan budaya dalam kehidupan setiap orang karena dengan bersikap tulus, itu sama artinya telah menyatakan perbuatan kasih kepada orang lain. … hendaklah kamu bersungguh-sungguh saling mengasihi dengan segenap hatimu. Selamat berbagi kasih di dalam ketulusan (dalam arti positif tapinya yaaa…)

IKHLAS

Mengikhlaskan kepergian orang yang kita cintai demi kebaikan


Subuh tadi saya mendapat pesan singkat dari seorang teman baik. Dia mengabarkan tentang sahabatnya yang menderita kanker yang dinihari tadi telah tiada.

Beberapa bulan lalu teman baik saya itu pernah bercerita tentang sahabatnya yang sudah ia anggap seperti kakak sendiri. Sahabatnya itu divonis menderita kanker pada beberapa tahun lalu dan sejak saat itu hidupnya berubah drastis. Penderitaannya ditambah dengan: Istri yang baru ia nikahi beberapa bulan sudah meninggalkan dia, kesehatan dan daya tahan tubuh yang terus berkurang setiap harinya yang akhirnya membuat dia harus menggunakan kursi roda, tubuh yang tergantung dengan obat-obatan dan keluarga yang semakin hari justru terlihat sudah jenuh dengan kondisi anaknya yang tidak kunjung membaik.

Kondisi yang dialami oleh sahabat teman baik saya memang sangat memprihatinkan dan pagi ini Allah Swt. telah menyudahi semua derita yang sudah ia tanggung selama ini.

Hidup-mati adalah sepenuhnya milik Allah Swt. dan ketika saya atau mungkin kita memiliki seseorang yang disayangi seperti halnya cerita di atas, tentu secara arif kita akan mengikhlaskan kepergiannya karena kita tahu derita orang yang kita sayangi akan berakhir dan pilihan itu lebih arif dibanding ketika kita harus melihat orang yang kita sayangi menderita tiada akhir akibat sakit yang dideritanya.

Kisah serupa juga pernah dialami oleh salah seorang teman saya. Kali ini ia mengikhlaskan kepergian papahnya yang menderita penyakit liver dan diabetes.

Kejadiannya sekitar lima tahun lalu, ketika itu teman saya sedang menyusun tugas akhir. Karena sedang menyusun tugas akhir maka ia pun tidak mesti harus tinggal di kost-an di daerah Bogor terus menerus.

Papahnya adalah penderita penyakit Liver dan diabetes, bahkan sudah bertahun-tahun tergantung sekali dengan suntikan insulin. Kemana-mana papahnya tidak lupa membawa suntikan insulin dan karena itu dia sudah sangat terbiasa untuk menyuntikkannya sendiri.

Aktivitas keseharian papahnya cukup tinggi, hal itu berbanding terbalik dengan kondisi yang mengharuskan penderita penyakit Liver dan diabetes untuk tidak terlalu aktif dalam kesehariannya. Dan oleh karena aktivitasnya yang terkadang berlebihan itulah yang membuat papahnya terbilang sering 'bolak-balik' masuk rumah sakit untuk sekedar beristirahat.

Begitu juga dengan kejadian ketika papahnya meninggal. Hari itu papahnya masuk rumah sakit seperti biasa karena merasa lelah dan membutuhkan istirahat penuh. Teman saya dan Mamahnya itu tidak menaruh curiga sama sekali, bahkan ketika papahnya dirawat, adik teman saya yang sedang berlibur di Bali tidak terkesan terburu-buru saat ia diberitahu bahwa papahnya sedang dirawat.

Saat itu papahnya dirawat seperti biasa, sempat masuk ruang ICU dan sadar bahkan banyak ngobrol dengan teman saya dan mamahnya.

Seperti sudah diatur, papah teman saya yang masih dirawat sengaja menunggu kedatangan anak bungsunya yang sedang pergi berlibur sebelum ia meninggalkan wasiat dan nasehat kepada istri dan kedua anaknya.

Dan tidak lama selepas papah teman saya memberikan nasehat, tubuhnya terlihat sedikit mengejang dan bibirnya seperti sedikit meringis menahan sakit dan saat itulah mungkin ketika malaikat maut mencabut nyawanya. Seketika juga denyut jantung papah teman saya berhenti yang menandakan bahwa dia sudah tiada.

Melihat kondisi papahnya yang baru saja tiada, teman saya menitikkan air mata tapi ia bercerita saat itu tidak ada kesedihan yang mendalam yang ia rasakan karena saat itu ia berpikir derita yang selama ini dialami oleh papahnya sudah berakhir dan papahnya pun sudah membekali anak-anaknya dengan nasehat yang cukup bagi mereka dalam mengarungi hidupnya. Ada senyum bahagia yang terukir dari wajah papahnya seketika setelah ia meninggal dan satu lagi adalah saat meninggal papahnya adalah pada hari Jum'at, yang merupakan hari yang baik dan utama dalam Islam.

Cerita di atas memberikan kita pelajaran bahwa mengikhlaskan kepergian mereka yang kita sayangi demi kebaikan dan demi mengakhiri penderitaan yang dialaminya adalah wujud kasih sayang kita kepada mereka. Kita rela untuk hidup bersama menikmati derita mereka selama di dunia ini tapi kita akan ikhlas jika derita yang dialami mereka bisa berakhir walaupun berarti itu harus berpisah dengan kita di dunia ini. Dan itu semua adalah demi kebaikan bersama, demi kebaikan orang yang sudah tiada dan juga demi untuk kebaikan orang yang ditinggalkan.

Sesungguhnya Allah Swt. Maha Mengetahui mana yang terbaik untuk kita dan Maha Berkehendak atas segala sesuatu.